Seringkali kita berputus asa
tatkala mendapatkan kesulitan
atau cobaan. Padahal Allah telah
memberi janji bahwa di balik
kesulitan, pasti ada jalan keluar
yang begitu dekat. Dalam surat Alam Nasyroh, Allah
Ta’ ala berfirman, َّنِإَف َعَم ِرْسُعْلا اًرْسُي
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu, َّنِإ َعَم ِرْسُعْلا اًرْسُي
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 6) Mengenai ayat di atas, ada
beberapa faedah yang bisa kita
ambil: Pertama: Di balik satu kesulitan,
ada dua kemudahan
Kata “al ‘ usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh
hanyalah satu. Al ‘ usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan
al ‘ usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan
isim ma’ rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana
kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’ rifah diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata
yang pertama, terserah apakah
isim ma’ rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah
alif lam ‘ ahdiyah.” Intinya, al ‘ usr (kesulitan) pada ayat pertama
sama dengan al ‘ usr (kesulitan) pada ayat kedua.
Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro
(kemudahan) pertama berbeda
dengan yusro (kemudahan) kedua
karena keduanya menggunakan
isim nakiroh (seperti kata yang
tidak diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab,
“Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua
berbeda dengan kata yang
pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena
berulang.[1] Ini berarti ada satu
kesulitan dan ada dua kemudahan.
Dari sini, para ulama pun seringkali
mengatakan, “Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua
kemudahan.” Asal perkataan ini dari hadits yang lemah, namun
maknanya benar[2]. Jadi, di balik
satu kesulitan ada dua kemudahan.
Note: Mungkin sebagian orang
yang belum pernah mempelajari
bahasa Arab kurang paham dengan istilah di atas. Namun itulah
keunggulan orang yang paham
bahasa Arab, dalam memahami
ayat akan berbeda dengan orang
yang tidak memahaminya. Oleh
karena itu, setiap muslim hendaklah membekali diri dengan
ilmu alat ini. Di antara manfaatnya,
seseorang akan memahami Al
Qur’ an lebih mudah dan pemahamannya pun begitu
berbeda dengan orang yang tidak
paham bahasa Arab. Semoga Allah
memberi kemudahan. Kedua: Akhir berbagai kesulitan
adalah kemudahan
Syaikh ‘ Abdurrahman bin Nashir As Sa’ di mengatakan, “Kata al ‘ usr (kesulitan) menggunakan alif-lam
dan menunjukkan umum (istigroq)
yaitu segala macam kesulitan. Hal
ini menunjukkan bahwa bagaimana
pun sulitnya, akhir dari setiap
kesulitan adalah kemudahan.”[3] Dari sini, kita dapat mengambil
pelajaran, “Badai pastilah berlalu (after a storm comes a calm),
yaitu setelah ada kesulitan pasti
ada jalan keluar.” Ketiga: Di balik kesulitan, ada
kemudahan yang begitu dekat
Dalam ayat di atas, digunakan
kata ma’ a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan,
“Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob
(yang berlika-liku dan sempit, pen),
kemudahan akan turut serta
memasuki lubang itu dan akan
mengeluarkan kesulitan
tersebut.”[4] Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan
sulit untuk dilewati karena berlika-
liku (zig-zag). Namun kemudahan
akan terus menemani kesulitan,
walaupun di medan yang sesulit
apapun. Allah Ta’ ala berfirman, ُلَعْجَيَس ُهَّللا َدْعَب ٍرْسُع اًرْسُي
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah
kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7) Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli
tafsir lainnya mengatakan,
“Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan
kelapangan.”[5] Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia
mengingkarinya.”[6] Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, َّنَأَو َعَم ِرْسُعْلا ًارْسُي
“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”[7] Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan
janji Allah dan Rasul-Nya ini? Rahasia Mengapa di Balik Kesulitan,
Ada Kemudahan yang Begitu Dekat
Ibnu Rajab telah mengisyaratkan
hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa
sulit dan semakin berat, maka
seorang hamba akan menjadi
putus asa dan demikianlah
keadaan makhluk yang tidak bisa
keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada
Allah semata. Inilah hakekat
tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah
yang menjadi sebab terbesar
keluar dari kesempitan yang ada.
Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang
bertawakkal pada-Nya.
Sebagaimana Allah Ta’ ala berfirman, ْنَمَو ْلَّكَوَتَي ىَلَع ِهَّللا َوُهَف
ُهُبْسَح
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan
(keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).”[8] Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya.
Jadi intinya, tawakkal lah yang
menjadi sebab terbesar seseorang
keluar dari kesulitan dan
kesempitan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk
golongan orang yang sabar dalam
menghadapi setiap ketentuan-Mu.
Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu
yang selalu bertawakkal dan
bergantung pada-Mu. Amin Ya Mujibas Saa-ilin. Baca selengkapnya di sini:
http://rumaysho.com/belajar-islam/
tafsir-al-quran/2774-yakinlah-di-
balik-kesulitan-ada-kemudahan-
yang-begitu-dekat.html
мзицдибкди isi кзрдlд мзиjдδiкдичд sзвцдн тцlisди ядибкдiди кдтд дрiк δди взявдбi●
Tampilkan postingan dengan label mengenal ajaran islam lebih dekat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenal ajaran islam lebih dekat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Januari 2011
Hati-Hati dengan Lisan
Saudaraku, seringkali lisan ini
tergelincir mengucapkan kata-kata
kotor, mencela orang lain,
membicarakan orang lain padahal
dia tidak senang untuk
diceritakan, bahkan seringkali lisan ini mengucapkan kata-kata yang
mengandung kesyirikan dan
kekufuran.
Harusnya setiap muslim mengoreksi
diri dalam setiap tingkah lakunya,
apalagi dalam perkara lisannya, yang begitu enteng mengucapkan
sesuatu karena keluar dari lidah
yang tak bertulang. Ingatlah saudaraku, setiap yang
kita ucapkan, mencakup perkataan
yang baik, yang buruk juga yang
sia-sia akan selalu dicatat oleh
malaikat yang setiap saat
mengawasi kita. Seharusnya kita selalu merenungkan ayat berikut
agar tidak serampangan
mengeluarkan kata-kata dari lisan
ini. Allah Ta’ ala berfirman (yang artinya), ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada
di dekatnya malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18). Ucapan dalam ayat ini bersifat
umum. Oleh karena itu, bukan
perkataan yang baik dan buruk
saja yang akan dicatat oleh
malaikat, tetapi termasuk juga
kata-kata yang tidak bermanfaat atau sia-sia. (Lihat Tafsir Syaikh
Ibnu Utsaimin pada Surat Qaaf)
Kita dapat melihat contoh ulama
yang selalu menjaga lisannya
bahkan sampai dalam keadaan
sakit. Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan
beliau dalam keadaan sakit.
Kemudian beliau merintih karena
sakit yang dideritanya. Lalu ada
yang berkata kepadanya (yaitu
Thowus, seorang tabi’ in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu,
Imam Ahmad langsung diam, tidak
merintih. Beliau takut jika merintih
sakit, rintihannya tersebut akan
dicatat oleh malaikat. (Silsilah
Liqo’ at Al Bab Al Maftuh, 11/5) Lihatlah saudaraku, bentuk
rintihan seperti ini saja dicatat
oleh malaikat, apalagi
ketergelinciran lisan yang lebih dari
itu.
Ibnu Mas'ud mengatakan, "Tidak ada yang lebih pantas dipenjara
dalam waktu yang lama melainkan
lisanku ini." (Mukhtashor Minhajil
Qoshidin, hal. 165, Maktabah Darul
Bayan) Di Antara Ketergilincaran Lisan
[Pertama] Mencela Makhluk yang
Tidak Dapat Berbuat Apa-apa
Misalnya dengan mengatakan,
‘ Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘ Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula,
‘ Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’ . Lidah ini begitu mudah
mengucapkan perkataan seperti
ini. Padahal makhluk yang kita cela
tersebut tidak mampu berbuat
apa-apa kecuali atas kehendak
Allah. Mencaci waktu, angin, dan hujan, pada dasarnya telah
mencaci, mengganggu dan
menyakiti yang telah menciptakan
dan mengatur mereka yaitu Allah
Ta’ ala. Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta'ala berfirman, ‘ Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu),
padahal Aku adalah pemilik dan
pengatur masa. Aku-lah yang
mengatur malam dan siang menjadi
silih berganti’ .” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga
bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih) [Kedua] Seringnya Berdusta
Hal ini juga sering dilakukan oleh
kita saat ini. Dalam mu’ amalah saja seringkali seperti itu. Hanya ingin
mendapat untung yang besar,
seorang tukang bangunan rela
berdusta. Harga semennya
sebenarnya 30 ribu, namun tukang
tersebut mengatakan pada juragannya bahwa harganya 40
ribu.
Begitu juga dalam mendidik anak,
seringkali juga muncul perkataan
dusta. Ketika seorang anak
merengek, menangis terus- terusan. Untuk mendiamkannya,
sang Ibu spontan mengatakan,
“Iya, iya, nanti Mama akan belikan coklat di warung. Sekarang jangan
nangis lagi.” Setelah anaknya diam, ibunya malah tidak memberikan dia
apa-apa. Kelakuan ibu ini juga
secara tidak langsung telah
mengajarkan anaknya untuk
berdusta. Jadi jangan salahkan
anaknya, jika dewasa nanti, anaknya malah yang sering
membohongi orang tuanya. Saudaraku, bentuk pertama dan
kedua ini sama-sama berkata
dusta. Ingatlah bahwa perbuatan
semacam ini termasuk ciri-ciri
kemunafikan. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga : jika
berkata, dia dusta; jika berjanji,
dia menyelisinya; dan jika diberi
amanat, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah di antara dua bentuk
ketergelinciran lisan dan masih
banyak sekali bentuk yang lainnya. Berpikirlah Sebelum Berucap
Hendaklah seseorang berpikir dulu
sebelum berbicara. Siapa tahu
karena lisannya, dia akan dilempar
ke neraka. Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan
suatu perkataan yang tidak
dipikirkan bahayanya terlebih
dahulu, sehingga membuatnya
dilempar ke neraka dengan jarak
yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim) Ulama besar Syafi’ iyyah, An Nawawi rahimahullah dalam Syarh
Muslim tatkala menjelaskan hadits
ini mengatakan, ”Ini merupakan dalil yang mendorong setiap orang
agar selalu menjaga lisannya
sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam juga bersabda, ‘ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah
yang baik dan jika tidak maka
diamlah.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, selayaknya setiap
orang yang berbicara dengan
suatu perkataan atau kalimat,
hendaknya merenungkan dalam
dirinya sebelum berucap. Jika
memang ada manfaatnya, maka dia baru berbicara. Namun jika tidak,
hendaklah dia menahan lisannya.” Itulah manusia, dia menganggap
perkataannya seperti itu tidak
apa-apa, namun di sisi Allah itu
adalah suatu perkara yang bukan
sepele. Allah Ta’ ala berfirman, “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi
Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15)
Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan
bahwa orang-orang biasa
menganggap perkara ini ringan.
Namun, di sisi Allah perkara ini
dosanya amatlah besar. Dengan Lisan, Seseorang Bisa
Ditinggikan Derajatnya
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan
suatu perkataan yang tidak dia
pikirkan lalu Allah mengangkat
derajatnya disebabkan
perkataannya itu.” (HR. Bukhari) Ketinggian derajat di sini bisa
diperoleh jika lisan selalu diarahkan
pada perkara kebaikan, di
antaranya dengan berdo’ a, membaca Al Qur’ an, berdakwah di jalan Allah, mengajarkan orang lain
di majelis ilmu dan lain sebagainya.
Atau dengan kata lain, ketinggian
derajat tersebut bisa diperoleh
dengan mengarahkan lisan pada
perkara-perkara yang Allah ridhoi. (Lihat Nashihatu Linnisa’ , hal. 20) Baca selengkapnya di sini:
http://rumaysho.com/belajar-islam/
akhlak/2864-hati-hati-dengan-
lisan.html
tergelincir mengucapkan kata-kata
kotor, mencela orang lain,
membicarakan orang lain padahal
dia tidak senang untuk
diceritakan, bahkan seringkali lisan ini mengucapkan kata-kata yang
mengandung kesyirikan dan
kekufuran.
Harusnya setiap muslim mengoreksi
diri dalam setiap tingkah lakunya,
apalagi dalam perkara lisannya, yang begitu enteng mengucapkan
sesuatu karena keluar dari lidah
yang tak bertulang. Ingatlah saudaraku, setiap yang
kita ucapkan, mencakup perkataan
yang baik, yang buruk juga yang
sia-sia akan selalu dicatat oleh
malaikat yang setiap saat
mengawasi kita. Seharusnya kita selalu merenungkan ayat berikut
agar tidak serampangan
mengeluarkan kata-kata dari lisan
ini. Allah Ta’ ala berfirman (yang artinya), ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada
di dekatnya malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18). Ucapan dalam ayat ini bersifat
umum. Oleh karena itu, bukan
perkataan yang baik dan buruk
saja yang akan dicatat oleh
malaikat, tetapi termasuk juga
kata-kata yang tidak bermanfaat atau sia-sia. (Lihat Tafsir Syaikh
Ibnu Utsaimin pada Surat Qaaf)
Kita dapat melihat contoh ulama
yang selalu menjaga lisannya
bahkan sampai dalam keadaan
sakit. Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan
beliau dalam keadaan sakit.
Kemudian beliau merintih karena
sakit yang dideritanya. Lalu ada
yang berkata kepadanya (yaitu
Thowus, seorang tabi’ in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu,
Imam Ahmad langsung diam, tidak
merintih. Beliau takut jika merintih
sakit, rintihannya tersebut akan
dicatat oleh malaikat. (Silsilah
Liqo’ at Al Bab Al Maftuh, 11/5) Lihatlah saudaraku, bentuk
rintihan seperti ini saja dicatat
oleh malaikat, apalagi
ketergelinciran lisan yang lebih dari
itu.
Ibnu Mas'ud mengatakan, "Tidak ada yang lebih pantas dipenjara
dalam waktu yang lama melainkan
lisanku ini." (Mukhtashor Minhajil
Qoshidin, hal. 165, Maktabah Darul
Bayan) Di Antara Ketergilincaran Lisan
[Pertama] Mencela Makhluk yang
Tidak Dapat Berbuat Apa-apa
Misalnya dengan mengatakan,
‘ Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘ Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula,
‘ Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’ . Lidah ini begitu mudah
mengucapkan perkataan seperti
ini. Padahal makhluk yang kita cela
tersebut tidak mampu berbuat
apa-apa kecuali atas kehendak
Allah. Mencaci waktu, angin, dan hujan, pada dasarnya telah
mencaci, mengganggu dan
menyakiti yang telah menciptakan
dan mengatur mereka yaitu Allah
Ta’ ala. Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta'ala berfirman, ‘ Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu),
padahal Aku adalah pemilik dan
pengatur masa. Aku-lah yang
mengatur malam dan siang menjadi
silih berganti’ .” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam juga
bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih) [Kedua] Seringnya Berdusta
Hal ini juga sering dilakukan oleh
kita saat ini. Dalam mu’ amalah saja seringkali seperti itu. Hanya ingin
mendapat untung yang besar,
seorang tukang bangunan rela
berdusta. Harga semennya
sebenarnya 30 ribu, namun tukang
tersebut mengatakan pada juragannya bahwa harganya 40
ribu.
Begitu juga dalam mendidik anak,
seringkali juga muncul perkataan
dusta. Ketika seorang anak
merengek, menangis terus- terusan. Untuk mendiamkannya,
sang Ibu spontan mengatakan,
“Iya, iya, nanti Mama akan belikan coklat di warung. Sekarang jangan
nangis lagi.” Setelah anaknya diam, ibunya malah tidak memberikan dia
apa-apa. Kelakuan ibu ini juga
secara tidak langsung telah
mengajarkan anaknya untuk
berdusta. Jadi jangan salahkan
anaknya, jika dewasa nanti, anaknya malah yang sering
membohongi orang tuanya. Saudaraku, bentuk pertama dan
kedua ini sama-sama berkata
dusta. Ingatlah bahwa perbuatan
semacam ini termasuk ciri-ciri
kemunafikan. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga : jika
berkata, dia dusta; jika berjanji,
dia menyelisinya; dan jika diberi
amanat, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah di antara dua bentuk
ketergelinciran lisan dan masih
banyak sekali bentuk yang lainnya. Berpikirlah Sebelum Berucap
Hendaklah seseorang berpikir dulu
sebelum berbicara. Siapa tahu
karena lisannya, dia akan dilempar
ke neraka. Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan
suatu perkataan yang tidak
dipikirkan bahayanya terlebih
dahulu, sehingga membuatnya
dilempar ke neraka dengan jarak
yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim) Ulama besar Syafi’ iyyah, An Nawawi rahimahullah dalam Syarh
Muslim tatkala menjelaskan hadits
ini mengatakan, ”Ini merupakan dalil yang mendorong setiap orang
agar selalu menjaga lisannya
sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam juga bersabda, ‘ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah
yang baik dan jika tidak maka
diamlah.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, selayaknya setiap
orang yang berbicara dengan
suatu perkataan atau kalimat,
hendaknya merenungkan dalam
dirinya sebelum berucap. Jika
memang ada manfaatnya, maka dia baru berbicara. Namun jika tidak,
hendaklah dia menahan lisannya.” Itulah manusia, dia menganggap
perkataannya seperti itu tidak
apa-apa, namun di sisi Allah itu
adalah suatu perkara yang bukan
sepele. Allah Ta’ ala berfirman, “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi
Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15)
Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan
bahwa orang-orang biasa
menganggap perkara ini ringan.
Namun, di sisi Allah perkara ini
dosanya amatlah besar. Dengan Lisan, Seseorang Bisa
Ditinggikan Derajatnya
Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan
suatu perkataan yang tidak dia
pikirkan lalu Allah mengangkat
derajatnya disebabkan
perkataannya itu.” (HR. Bukhari) Ketinggian derajat di sini bisa
diperoleh jika lisan selalu diarahkan
pada perkara kebaikan, di
antaranya dengan berdo’ a, membaca Al Qur’ an, berdakwah di jalan Allah, mengajarkan orang lain
di majelis ilmu dan lain sebagainya.
Atau dengan kata lain, ketinggian
derajat tersebut bisa diperoleh
dengan mengarahkan lisan pada
perkara-perkara yang Allah ridhoi. (Lihat Nashihatu Linnisa’ , hal. 20) Baca selengkapnya di sini:
http://rumaysho.com/belajar-islam/
akhlak/2864-hati-hati-dengan-
lisan.html
Berusahalah untuk Ikhlas
Allah akan senantiasa menolong
kaum muslimin karena keikhlasan
sebagian orang dari umat ini. Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, اَمَّنِإ ُرُصْنَي ُهَّللا ِهِذَه َةَّمُأْلا اَهِفيِعَضِب ْمِهِتَوْعَدِب ْمِهِتاَلَصَو
ْمِهِصاَلْخِإَو
“Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena
do’ a orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena
keikhlasan mereka dalam
beramal.”[1] Ikhlas adalah salah satu syarat
diterimanya suatu amalan, di
samping amalan tersebut harus
sesuai tuntunan Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Ibnul
Qayyim dalam Al Fawa-id
memberikan nasehat yang sangat
indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan
tanpa mengikuti tuntunan Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang
membawa bekal berisi pasir. Bekal
tersebut hanya memberatkan,
namun tidak membawa manfaat
apa-apa.” Perintah untuk Ikhlas
Setiap amalan sangat tergantung
pada niat. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda, اَمَّنإ ُلاَمْعَألا ِتاَّيِّنلاِب ، اَمَّنِإَو ِّلُكِل ٍئِرْما اَم ىَوَن
“Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan
setiap orang akan memperoleh apa
yang dia niatkan.”[2] Dan niat itu sangat tergantung
dengan keikhlasan pada Allah. Hal
ini berdasarkan firman Allah Ta’ ala, اَمَو اوُرِمُأ الِإ اوُدُبْعَيِل َهَّللا َنيِصِلْخُم ُهَل َنيِّدلا َءاَفَنُح اوُميِقُيَو َةالَّصلا اوُتْؤُيَو َةاَكَّزلا َكِلَذَو ُنيِد
ِةَمِّيَقْلا
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama dengan lurus, dan supaya
mereka mendirikan salat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5) Allah pun mengetahui segala
sesuatu yang ada dalam isi hati
hamba. Allah Ta’ ala berfirman, ْلُق ْنِإ اوُفْخُت اَم يِف ْمُكِروُدُص ْوَأ ُهوُدْبُت ُهْمَلْعَي ُهَّللا
“Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada
dalam hatimu atau kamu
melahirkannya, pasti Allah
mengetahui”." (QS. Ali Imran: 29) Dalam ayat lainnya, Allah
memperingatkan dari bahaya riya’ – yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, ْنِئَل َتْكَرْشَأ َّنَطَبْحَيَل َكُلَمَع
“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah
amalmu.” (QS. Az Zumar: 65) Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, َلاَق ُهَّللا َكَراَبَت ىَلاَعَتَو اَنَأ ىَنْغَأ ِءاَكَرُّشلا ِنَع ِكْرِّشلا ْنَم َلِمَع ًالَمَع َكَرْشَأ ِهيِف ىِعَم ىِرْيَغ ُهُتْكَرَت ُهَكْرِشَو
“Allah Tabaroka wa Ta’ ala berfirman: Aku sama sekali tidak
butuh pada sekutu dalam
perbuatan syirik. Barangsiapa yang
menyekutukan-Ku dengan selain-
Ku, maka Aku akan
meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen)
dan perbuatan syiriknya.”[3] An Nawawi mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat
riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala
apa-apa, bahkan ia akan
mendapatkan dosa.”[4] Dalam hadits lainnya, Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ْنَم َمَّلَعَت اًمْلِع اَّمِم ىَغَتْبُي ِهِب ُهْجَو ِهَّللا َّزَع َّلَجَو َال ُهُمَّلَعَتَي َّالِإ َبيِصُيِل ِهِب اًضَرَع َنِم اَيْنُّدلا ْمَل ْدِجَي َفْرَع ِةَّنَجْلا َمْوَي ِةَماَيِقْلا
“Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan
hanya untuk mengharap wajah
Allah, namun ia mempelajarinya
hanya untuk mendapatkan materi
duniawi, maka ia tidak akan
pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.”[5] Pengertian Ikhlas Menurut Para
Ulama
Para ulama menjelaskan ikhlas
dengan beberapa pengertian,
namun sebenarnya hakikatnya
sama. Berikut perkataan ulama- ulama tersebut.[6]
Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan,
“Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam
melakukan amalan ketaatan. Jadi,
amalan ketaatan tersebut
dilakukan dalam rangka
mendekatkan diri pada Allah.
Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik
dan pujian dari makhluk atau yang
dilakukan bukanlah di luar
mendekatkan diri pada Allah.” Abul Qosim juga mengatakan,
“Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” Jika kita sedang melakukan suatu
amalan maka hendaklah kita tidak
bercita-cita ingin mendapatkan
pujian makhluk. Cukuplah Allah saja
yang memuji amalan kebajikan kita.
Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan
pujian manusia.
Hudzaifah Al Mar’ asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara
zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya'. Riya’ adalah amalan zhohir (yang
tampak) lebih baik dari amalan
batin yang tidak ditampakkan.
Sedangkan ikhlas, minimalnya
adalah sama antara lahiriyah dan
batin. Dzun Nuun menyebutkan tiga
tanda ikhlas:Tetap merasa sama
antara pujian dan celaan orang
lain.Melupakan amalan kebajikan
yang dulu pernah
diperbuat.Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di
dunia).Al Fudhail bin ‘ Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah
riya’ . Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan
ikhlas adalah engkau
terselamatkan dari dua hal tadi.” Ada empat definisi dari ikhlas yang
bisa kita simpulkan dari perkataan
ulama di atas.Meniatkan suatu
amalan hanya untuk Allah.Tidak
mengharap-harap pujian manusia
dalam beramal.Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang
tersembunyi.Mengharap balasan
dari amalannya di akhirat.Baca
selengkapnya di sini: http://
rumaysho.com/belajar-islam/
aqidah/2783-berusaha-untuk- ikhlas.html
kaum muslimin karena keikhlasan
sebagian orang dari umat ini. Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, اَمَّنِإ ُرُصْنَي ُهَّللا ِهِذَه َةَّمُأْلا اَهِفيِعَضِب ْمِهِتَوْعَدِب ْمِهِتاَلَصَو
ْمِهِصاَلْخِإَو
“Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena
do’ a orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena
keikhlasan mereka dalam
beramal.”[1] Ikhlas adalah salah satu syarat
diterimanya suatu amalan, di
samping amalan tersebut harus
sesuai tuntunan Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Ibnul
Qayyim dalam Al Fawa-id
memberikan nasehat yang sangat
indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan
tanpa mengikuti tuntunan Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang
membawa bekal berisi pasir. Bekal
tersebut hanya memberatkan,
namun tidak membawa manfaat
apa-apa.” Perintah untuk Ikhlas
Setiap amalan sangat tergantung
pada niat. Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda, اَمَّنإ ُلاَمْعَألا ِتاَّيِّنلاِب ، اَمَّنِإَو ِّلُكِل ٍئِرْما اَم ىَوَن
“Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya. Dan
setiap orang akan memperoleh apa
yang dia niatkan.”[2] Dan niat itu sangat tergantung
dengan keikhlasan pada Allah. Hal
ini berdasarkan firman Allah Ta’ ala, اَمَو اوُرِمُأ الِإ اوُدُبْعَيِل َهَّللا َنيِصِلْخُم ُهَل َنيِّدلا َءاَفَنُح اوُميِقُيَو َةالَّصلا اوُتْؤُيَو َةاَكَّزلا َكِلَذَو ُنيِد
ِةَمِّيَقْلا
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama dengan lurus, dan supaya
mereka mendirikan salat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5) Allah pun mengetahui segala
sesuatu yang ada dalam isi hati
hamba. Allah Ta’ ala berfirman, ْلُق ْنِإ اوُفْخُت اَم يِف ْمُكِروُدُص ْوَأ ُهوُدْبُت ُهْمَلْعَي ُهَّللا
“Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada
dalam hatimu atau kamu
melahirkannya, pasti Allah
mengetahui”." (QS. Ali Imran: 29) Dalam ayat lainnya, Allah
memperingatkan dari bahaya riya’ – yang merupakan lawan dari ikhlas- dalam firman-Nya, ْنِئَل َتْكَرْشَأ َّنَطَبْحَيَل َكُلَمَع
“Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah
amalmu.” (QS. Az Zumar: 65) Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, َلاَق ُهَّللا َكَراَبَت ىَلاَعَتَو اَنَأ ىَنْغَأ ِءاَكَرُّشلا ِنَع ِكْرِّشلا ْنَم َلِمَع ًالَمَع َكَرْشَأ ِهيِف ىِعَم ىِرْيَغ ُهُتْكَرَت ُهَكْرِشَو
“Allah Tabaroka wa Ta’ ala berfirman: Aku sama sekali tidak
butuh pada sekutu dalam
perbuatan syirik. Barangsiapa yang
menyekutukan-Ku dengan selain-
Ku, maka Aku akan
meninggalkannya (maksudnya: tidak menerima amalannya, pen)
dan perbuatan syiriknya.”[3] An Nawawi mengatakan, “Amalan seseorang yang berbuat
riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala
apa-apa, bahkan ia akan
mendapatkan dosa.”[4] Dalam hadits lainnya, Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ْنَم َمَّلَعَت اًمْلِع اَّمِم ىَغَتْبُي ِهِب ُهْجَو ِهَّللا َّزَع َّلَجَو َال ُهُمَّلَعَتَي َّالِإ َبيِصُيِل ِهِب اًضَرَع َنِم اَيْنُّدلا ْمَل ْدِجَي َفْرَع ِةَّنَجْلا َمْوَي ِةَماَيِقْلا
“Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan
hanya untuk mengharap wajah
Allah, namun ia mempelajarinya
hanya untuk mendapatkan materi
duniawi, maka ia tidak akan
pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti.”[5] Pengertian Ikhlas Menurut Para
Ulama
Para ulama menjelaskan ikhlas
dengan beberapa pengertian,
namun sebenarnya hakikatnya
sama. Berikut perkataan ulama- ulama tersebut.[6]
Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan,
“Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam
melakukan amalan ketaatan. Jadi,
amalan ketaatan tersebut
dilakukan dalam rangka
mendekatkan diri pada Allah.
Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik
dan pujian dari makhluk atau yang
dilakukan bukanlah di luar
mendekatkan diri pada Allah.” Abul Qosim juga mengatakan,
“Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.” Jika kita sedang melakukan suatu
amalan maka hendaklah kita tidak
bercita-cita ingin mendapatkan
pujian makhluk. Cukuplah Allah saja
yang memuji amalan kebajikan kita.
Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan
pujian manusia.
Hudzaifah Al Mar’ asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara
zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya'. Riya’ adalah amalan zhohir (yang
tampak) lebih baik dari amalan
batin yang tidak ditampakkan.
Sedangkan ikhlas, minimalnya
adalah sama antara lahiriyah dan
batin. Dzun Nuun menyebutkan tiga
tanda ikhlas:Tetap merasa sama
antara pujian dan celaan orang
lain.Melupakan amalan kebajikan
yang dulu pernah
diperbuat.Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di
dunia).Al Fudhail bin ‘ Iyadh mengatakan, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah
riya’ . Beramal karena manusia termasuk kesyirikan. Sedangkan
ikhlas adalah engkau
terselamatkan dari dua hal tadi.” Ada empat definisi dari ikhlas yang
bisa kita simpulkan dari perkataan
ulama di atas.Meniatkan suatu
amalan hanya untuk Allah.Tidak
mengharap-harap pujian manusia
dalam beramal.Kesamaan antara sesuatu yang tampak dan yang
tersembunyi.Mengharap balasan
dari amalannya di akhirat.Baca
selengkapnya di sini: http://
rumaysho.com/belajar-islam/
aqidah/2783-berusaha-untuk- ikhlas.html
Amalkanlah Do'a Mohon Segala Ampunan
Maukah Anda mengetahui do’ a memohon ampunan pada Allah atau
istighfar yang sudah mencakup
segala hal, sudah mencakup segala
dosa? Inilah do’ a yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘ alaihi wa sallam. Yang moga-moga bisa rutin
kita amalkan dalam do’ a-do’ a kita sehari-hari. Karena kita tahu
bersama bahwa kita adalah
manusia yang tidak luput dari
salah baik tatkala bercanda atau
serius. Moga dengan do’ a ini, Allah mengampuni dan memaafkan
kesalahan-kesalah kita yang ada. Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam biasa membaca do’ a: َّمُهَّللا ْرِفْغا ىِل ىِتَئيِطَخ ىِلْهَجَو ىِفاَرْسِإَو ىِف ىِرْمَأ اَمَو َتْنَأ ُمَلْعَأ ِهِب ىِّنِم َّمُهَّللا ْرِفْغا ىِل ىِّدِج ىِلْزَهَو ىِئَطَخَو ىِدْمَعَو ُّلُكَو َكِلَذ ىِدْنِع
“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa
anta a’ lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa
khotho-i wa ‘ amdii, wa kullu dzalika ‘ indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku,
kejahilanku, sikapku yang
melampaui batas dalam urusanku
dan segala hal yang Engkau lebih
mengetahui hal itu dari diriku. Ya
Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius
maupun saat bercanda dan
ampunilah pula kesalahanku saat
aku tidak sengaja maupn sengaja,
ampunilah segala kesalahan yang
kulakukan)[1] Penjelasan
Do’ a ini adalah do’ a yang mencakup segala macam istighfar
(memohon ampunan pada Allah).
Karena do’ a ini sifatnya umum mencakup semuanya dan disertai
dengan perincian dengan lafazh
yang tegas.
Makna do’ a ini adalah ‘ Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya (dosa
kecil maupun dosa besar).
Ampunilah dosa yang muncul
karena kejahilan diriku, karena
sikap melampaui batas dalam
segala hal. Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya yang kuketahui
maupun tidak kuketahui, yang
diperbuat dalam keadaan serius
atau bercanda, dan yang
diperbuat di kala keliru (tidak
sengaja) dan di kala sengaja. Aku mengakui semua dosa-dosa ini, Ya
Allah’ . Sedangkan kalimat do’ a yang terakhir “wa kullu dzalika ‘ indii”, maksudnya adalah pengakuan
kepada Allah bahwa kita adalah
hamba yang penuh dosa. Kita
mengakui semua dosa itu sehingga
timbullah rasa hina di hadapan
Allah, maka kita pun mohon ampun pada-Nya. Hal ini menunjukkan
pada kita bahwa pengakuan
seorang hamba terhadap dirinya
bahwa ia penuh kekurangan, ini
adalah salah satu sebab diterima
taubat dan diampuninya dosa. Renungkanlah Do’ a Ada satu pelajaran dari sini yang
perlu diperhatikan. Do’ a ini menunjukkan bahwa sudah
seharusnya seseorang ketika
berdo’ a merenungkan maksud do’ a yang ia panjatkan karena ini memberikan pengaruh amat besar
pada jiwa. Hal ini akan menimbulkan
kekhusyu’ an, rasa tunduk dan hina di hadapan Ar Rahman. Inilah
yang menunjukkan sempurnanya
ibadah seseorang dalam beribadah
kepada Allah. Kelanjutan tulisan di atas, silakan
baca di sini: http://rumaysho.com/
belajar-islam/amalan/3289-doa-
memohon-segala-ampunan.html
istighfar yang sudah mencakup
segala hal, sudah mencakup segala
dosa? Inilah do’ a yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘ alaihi wa sallam. Yang moga-moga bisa rutin
kita amalkan dalam do’ a-do’ a kita sehari-hari. Karena kita tahu
bersama bahwa kita adalah
manusia yang tidak luput dari
salah baik tatkala bercanda atau
serius. Moga dengan do’ a ini, Allah mengampuni dan memaafkan
kesalahan-kesalah kita yang ada. Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam biasa membaca do’ a: َّمُهَّللا ْرِفْغا ىِل ىِتَئيِطَخ ىِلْهَجَو ىِفاَرْسِإَو ىِف ىِرْمَأ اَمَو َتْنَأ ُمَلْعَأ ِهِب ىِّنِم َّمُهَّللا ْرِفْغا ىِل ىِّدِج ىِلْزَهَو ىِئَطَخَو ىِدْمَعَو ُّلُكَو َكِلَذ ىِدْنِع
“Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa
anta a’ lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa
khotho-i wa ‘ amdii, wa kullu dzalika ‘ indii” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku,
kejahilanku, sikapku yang
melampaui batas dalam urusanku
dan segala hal yang Engkau lebih
mengetahui hal itu dari diriku. Ya
Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius
maupun saat bercanda dan
ampunilah pula kesalahanku saat
aku tidak sengaja maupn sengaja,
ampunilah segala kesalahan yang
kulakukan)[1] Penjelasan
Do’ a ini adalah do’ a yang mencakup segala macam istighfar
(memohon ampunan pada Allah).
Karena do’ a ini sifatnya umum mencakup semuanya dan disertai
dengan perincian dengan lafazh
yang tegas.
Makna do’ a ini adalah ‘ Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya (dosa
kecil maupun dosa besar).
Ampunilah dosa yang muncul
karena kejahilan diriku, karena
sikap melampaui batas dalam
segala hal. Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya yang kuketahui
maupun tidak kuketahui, yang
diperbuat dalam keadaan serius
atau bercanda, dan yang
diperbuat di kala keliru (tidak
sengaja) dan di kala sengaja. Aku mengakui semua dosa-dosa ini, Ya
Allah’ . Sedangkan kalimat do’ a yang terakhir “wa kullu dzalika ‘ indii”, maksudnya adalah pengakuan
kepada Allah bahwa kita adalah
hamba yang penuh dosa. Kita
mengakui semua dosa itu sehingga
timbullah rasa hina di hadapan
Allah, maka kita pun mohon ampun pada-Nya. Hal ini menunjukkan
pada kita bahwa pengakuan
seorang hamba terhadap dirinya
bahwa ia penuh kekurangan, ini
adalah salah satu sebab diterima
taubat dan diampuninya dosa. Renungkanlah Do’ a Ada satu pelajaran dari sini yang
perlu diperhatikan. Do’ a ini menunjukkan bahwa sudah
seharusnya seseorang ketika
berdo’ a merenungkan maksud do’ a yang ia panjatkan karena ini memberikan pengaruh amat besar
pada jiwa. Hal ini akan menimbulkan
kekhusyu’ an, rasa tunduk dan hina di hadapan Ar Rahman. Inilah
yang menunjukkan sempurnanya
ibadah seseorang dalam beribadah
kepada Allah. Kelanjutan tulisan di atas, silakan
baca di sini: http://rumaysho.com/
belajar-islam/amalan/3289-doa-
memohon-segala-ampunan.html
Ringan di Lisan, Berat di Timbangan
Sebuah dzikir yang mudah
dirutinkan setiap saat, namun
berat di timbangan amalan. Dzikir
tersebut adalah bacaan
“Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘ azhim”. Dari Abu Hurairah, dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda, ِناَتَمِلَك ِناَتَفيِفَخ ىَلَع ِناَسِّللا ، ِناَتَليِقَث ىِف ِناَزيِمْلا ، ِناَتَبيِبَح ىَلِإ ِنَمْحَّرلا َناَحْبُس ِهَّللا ِهِدْمَحِبَو ، َناَحْبُس ِهَّللا
ِميِظَعْلا
"Dua kalimat yang ringan di lisan,
namun berat ditimbangan, dan
disukai Ar Rahman yaitu
“Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘ azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.
Maha Suci Allah Yang Maha Agung).
(HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim
no. 2694) Dalam Muqoddimah Al Fath (Fathul
Bari), Ibnu Hajar rahimahullah
menjelaskan keutamaan hadits
tersebut sebagai berikut:
Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan
kalimat yang ringan.
Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang
berdzikir karena kedua kalimat
tersebut dicintai oleh Ar Rahman
(Allah Yang Maha Pengasih).
Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk
beramal (karena dua kalimat ini
ringan dan mudah sekali
diamalkan).
Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala.
Alur pembicaraan dalam hadits di
atas sangat bagus sekali. Hadits
tersebut menunjukkan bahwa
cinta Rabb mendahului hal itu,
kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba.
Setelah itu diikuti dengan balasan
dua kalimat tadi pada hari kiamat.
Makna dzikir tersebut disebutkan
dalam akhir do’ a penduduk surga yang disebutkan dalam firman
Allah, ْمُهاَوْعَد اَهيِف َكَناَحْبُس َّمُهَّللا ْمُهُتَّيِحَتَو اَهيِف ٌماَلَس ُرِخَآَو ْمُهاَوْعَد ِنَأ ُدْمَحْلا ِهَّلِل ِّبَر َنيِمَلاَعْلا
“Do'a mereka di dalamnya adalah: "Subhanakallahumma", dan salam
penghormatan mereka adalah:
"Salam". Dan penutup doa mereka
adalah: "Alhamdulilaahi Rabbil
'aalamin".” (QS. Yunus: 10) Sumber: Muqqodimah Al Fath, Ibnu
Hajar Al Asqolani, hal. 474. ***
Sungguh sangat mengesankan,
setiap kami berjalan di kampus KSU
(King Saud University), baik di
tangga, di lift, dan tempat lainnya
terdapat stiker (tempelan) yang berisi motivasi untuk membaca
dzikir tersebut. Sungguh
faedahnya memang amat luar
biasa. Tidak merugi untuk
mengamalkannya, apalagi begitu
ringan, disukai Ar Rahman dan berat di timbangan.
Semoga Allah mudahkan lisan kita
ini mudah untuk mengamalkan
dzikir yang sederhana ini. (*) Dzikir "Subhanallah", artinya
Maha Suci Allah, maksudnya adalah
mensucikan Allah dari berbagai
macam kekurangan dan aib yang
ada pada-NYa. Dzikir "wa
bihamdihi", artinya segala puji bagi Allah, artinya kita memuji Allah
karena Dialah yang pantas
mendapatkan pujian dan sanjungan
disebabkan nama dan sifat-Nya
yang sempurna. Dzikir "al 'azhim",
maksudnya Yang Maha Agung. Baca selengkapnya di sini: http://
rumaysho.com/belajar-islam/
amalan/3258-ringan-di-lisan-berat-
di-timbangan.html
Ajak saudara-saudara muslim lain
untuk bergabung dengan Fans Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat:
http://www.facebook.com/rumaysho
dirutinkan setiap saat, namun
berat di timbangan amalan. Dzikir
tersebut adalah bacaan
“Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘ azhim”. Dari Abu Hurairah, dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda, ِناَتَمِلَك ِناَتَفيِفَخ ىَلَع ِناَسِّللا ، ِناَتَليِقَث ىِف ِناَزيِمْلا ، ِناَتَبيِبَح ىَلِإ ِنَمْحَّرلا َناَحْبُس ِهَّللا ِهِدْمَحِبَو ، َناَحْبُس ِهَّللا
ِميِظَعْلا
"Dua kalimat yang ringan di lisan,
namun berat ditimbangan, dan
disukai Ar Rahman yaitu
“Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘ azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.
Maha Suci Allah Yang Maha Agung).
(HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim
no. 2694) Dalam Muqoddimah Al Fath (Fathul
Bari), Ibnu Hajar rahimahullah
menjelaskan keutamaan hadits
tersebut sebagai berikut:
Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan
kalimat yang ringan.
Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang
berdzikir karena kedua kalimat
tersebut dicintai oleh Ar Rahman
(Allah Yang Maha Pengasih).
Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk
beramal (karena dua kalimat ini
ringan dan mudah sekali
diamalkan).
Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala.
Alur pembicaraan dalam hadits di
atas sangat bagus sekali. Hadits
tersebut menunjukkan bahwa
cinta Rabb mendahului hal itu,
kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba.
Setelah itu diikuti dengan balasan
dua kalimat tadi pada hari kiamat.
Makna dzikir tersebut disebutkan
dalam akhir do’ a penduduk surga yang disebutkan dalam firman
Allah, ْمُهاَوْعَد اَهيِف َكَناَحْبُس َّمُهَّللا ْمُهُتَّيِحَتَو اَهيِف ٌماَلَس ُرِخَآَو ْمُهاَوْعَد ِنَأ ُدْمَحْلا ِهَّلِل ِّبَر َنيِمَلاَعْلا
“Do'a mereka di dalamnya adalah: "Subhanakallahumma", dan salam
penghormatan mereka adalah:
"Salam". Dan penutup doa mereka
adalah: "Alhamdulilaahi Rabbil
'aalamin".” (QS. Yunus: 10) Sumber: Muqqodimah Al Fath, Ibnu
Hajar Al Asqolani, hal. 474. ***
Sungguh sangat mengesankan,
setiap kami berjalan di kampus KSU
(King Saud University), baik di
tangga, di lift, dan tempat lainnya
terdapat stiker (tempelan) yang berisi motivasi untuk membaca
dzikir tersebut. Sungguh
faedahnya memang amat luar
biasa. Tidak merugi untuk
mengamalkannya, apalagi begitu
ringan, disukai Ar Rahman dan berat di timbangan.
Semoga Allah mudahkan lisan kita
ini mudah untuk mengamalkan
dzikir yang sederhana ini. (*) Dzikir "Subhanallah", artinya
Maha Suci Allah, maksudnya adalah
mensucikan Allah dari berbagai
macam kekurangan dan aib yang
ada pada-NYa. Dzikir "wa
bihamdihi", artinya segala puji bagi Allah, artinya kita memuji Allah
karena Dialah yang pantas
mendapatkan pujian dan sanjungan
disebabkan nama dan sifat-Nya
yang sempurna. Dzikir "al 'azhim",
maksudnya Yang Maha Agung. Baca selengkapnya di sini: http://
rumaysho.com/belajar-islam/
amalan/3258-ringan-di-lisan-berat-
di-timbangan.html
Ajak saudara-saudara muslim lain
untuk bergabung dengan Fans Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat:
http://www.facebook.com/rumaysho
3 Kemungkinan Terkabulnya Do'a
Sudah bertahun-tahun, si
Muhammad selalu memanjatkan
do’ a. Tak kunjung pula dikabulkan. Lama-kelamaan ia pun lantas
berputus asa. Mungkin ada satu pelajaran yang
si Muhammad belum mengetahuinya
termasuk pula kita. Perlu dipahami
bahwa setiap do’ a yang kita panjatkan— jika memang terpenuhi syarat-syaratnya— niscaya diijabahi. Namun belum tentu yang kita
minta bisa persis seperti itu. Boleh
jadi Allah beri yang lebih baik. Boleh
jadi Allah alihkan ke pilihan lain
karena siapa tahu yang kita minta
bisa mencelakakan diri kita. Barangkali pula Allah berikan persis
sesuai dengan apa yang kita minta.
Ini semua tergantung pada hikmah
Allah Ta’ ala. Contoh gampangnya seperti
seorang dokter. Ia mendapati
pasien yang sakit dan ingin diobati.
Si pasien mengeluhkan penyakitnya
seperti ini dan seperti ini. Lantas
dokter pun memberikan ia resep obat. Boleh jadi yang ia beri adalah
yang persis yang diminta oleh si
pasien. Boleh jadi pula dokter beri
resep yang lebih baik, lebih dari
yang si pasien kira. Boleh jadi pula
si dokter memberi resep obat yang lain, tidak seperti yang si
pasien minta, namun dokter
tersebut tahu mana yang terbaik.
Demikianlah permisalan terkabulnya
do’ a. Dalam sebuah hadits disebutkan,
« ام ْنِم ٍمِلْسُم وُعْدَي ٍةَوْعَدِب َسْيَل اَهيِف ٌمْثِإ َالَو ُةَعيِطَق ٍمِحَر َّالِإ ُهاَطْعَأ ُهَّللا اَهِب ىَدْحِإ ٍثَالَث اَّمِإ ْنَأ َلَّجَعُت ُهَل ُهُتَوْعَد اَّمِإَو ْنَأ اَهَرِخَّدَي ُهَل ىِف ِةَرِخآلا اَّمِإَو ُْنَأ َفِرْصَي ُهْنَع َنِم ِءوُّسلا اَهَلْثِم « . اوُلاَق ًاذِإ ُرِثْكُن . َلاَق » ُهَّللا ُرَثْكَأ » “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’ a pada Allah selama tidak mengandung dosa
dan memutuskan silaturahmi
(antar kerabat, pen) melainkan
Allah akan beri padanya tiga hal:
[1] Allah akan segera mengabulkan
do’ anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat
kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan
yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’ a.” Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-
do'a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa'id; derajat hasan) Ingatlah bahwa Allah Ta’ ala memang Maha Mengijabahi setiap
do’ a. Allah Ta’ ala berfirman,
يِنوُعْدا ْبِجَتْسَأ ْمُكَل
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu'min: 60). Boleh jadi Allah
mengabulkan do’ a tersebut sebagaimana yang diminta. Boleh
jadi Allah ganti dengan yang lebih
baik. Boleh jadi pula Allah ganti
dengan yang lain karena yang kita
minta barangkali tidak baik untuk
kita. ىَسَعَو ْنَأ اوُهَرْكَت اًئْيَش َوُهَو ٌرْيَخ ْمُكَل
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216) Jika setiap orang memahami hal ini,
maka tentu ia akan terus banyak
berdo’ a dan banyak memohon pada Allah. Karena setiap do’ a yang dipanjatkan pasti
bermanfaat. Segala sesuatu yang
Allah karuniakan, itulah yang
terbaik. Janganlah berputus asa! Don’ t give up! Sumber tulisan: http://
rumaysho.com/belajar-islam/
manajemen-qolbu/3211-3-
kemungkinan-terkabulnya-doa.html
Muhammad selalu memanjatkan
do’ a. Tak kunjung pula dikabulkan. Lama-kelamaan ia pun lantas
berputus asa. Mungkin ada satu pelajaran yang
si Muhammad belum mengetahuinya
termasuk pula kita. Perlu dipahami
bahwa setiap do’ a yang kita panjatkan— jika memang terpenuhi syarat-syaratnya— niscaya diijabahi. Namun belum tentu yang kita
minta bisa persis seperti itu. Boleh
jadi Allah beri yang lebih baik. Boleh
jadi Allah alihkan ke pilihan lain
karena siapa tahu yang kita minta
bisa mencelakakan diri kita. Barangkali pula Allah berikan persis
sesuai dengan apa yang kita minta.
Ini semua tergantung pada hikmah
Allah Ta’ ala. Contoh gampangnya seperti
seorang dokter. Ia mendapati
pasien yang sakit dan ingin diobati.
Si pasien mengeluhkan penyakitnya
seperti ini dan seperti ini. Lantas
dokter pun memberikan ia resep obat. Boleh jadi yang ia beri adalah
yang persis yang diminta oleh si
pasien. Boleh jadi pula dokter beri
resep yang lebih baik, lebih dari
yang si pasien kira. Boleh jadi pula
si dokter memberi resep obat yang lain, tidak seperti yang si
pasien minta, namun dokter
tersebut tahu mana yang terbaik.
Demikianlah permisalan terkabulnya
do’ a. Dalam sebuah hadits disebutkan,
« ام ْنِم ٍمِلْسُم وُعْدَي ٍةَوْعَدِب َسْيَل اَهيِف ٌمْثِإ َالَو ُةَعيِطَق ٍمِحَر َّالِإ ُهاَطْعَأ ُهَّللا اَهِب ىَدْحِإ ٍثَالَث اَّمِإ ْنَأ َلَّجَعُت ُهَل ُهُتَوْعَد اَّمِإَو ْنَأ اَهَرِخَّدَي ُهَل ىِف ِةَرِخآلا اَّمِإَو ُْنَأ َفِرْصَي ُهْنَع َنِم ِءوُّسلا اَهَلْثِم « . اوُلاَق ًاذِإ ُرِثْكُن . َلاَق » ُهَّللا ُرَثْكَأ » “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’ a pada Allah selama tidak mengandung dosa
dan memutuskan silaturahmi
(antar kerabat, pen) melainkan
Allah akan beri padanya tiga hal:
[1] Allah akan segera mengabulkan
do’ anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat
kelak, dan [3] Allah akan
menghindarkan darinya kejelekan
yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’ a.” Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-
do'a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa'id; derajat hasan) Ingatlah bahwa Allah Ta’ ala memang Maha Mengijabahi setiap
do’ a. Allah Ta’ ala berfirman,
يِنوُعْدا ْبِجَتْسَأ ْمُكَل
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu'min: 60). Boleh jadi Allah
mengabulkan do’ a tersebut sebagaimana yang diminta. Boleh
jadi Allah ganti dengan yang lebih
baik. Boleh jadi pula Allah ganti
dengan yang lain karena yang kita
minta barangkali tidak baik untuk
kita. ىَسَعَو ْنَأ اوُهَرْكَت اًئْيَش َوُهَو ٌرْيَخ ْمُكَل
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216) Jika setiap orang memahami hal ini,
maka tentu ia akan terus banyak
berdo’ a dan banyak memohon pada Allah. Karena setiap do’ a yang dipanjatkan pasti
bermanfaat. Segala sesuatu yang
Allah karuniakan, itulah yang
terbaik. Janganlah berputus asa! Don’ t give up! Sumber tulisan: http://
rumaysho.com/belajar-islam/
manajemen-qolbu/3211-3-
kemungkinan-terkabulnya-doa.html
jangan sia-siakan masa mudamu
Waktu muda, kata sebagian orang
adalah waktu untuk hidup foya-
foya, masa untuk bersenang-
senang. Sebagian mereka
mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan
mati masuk surga.” Inilah guyonan sebagian pemuda. Bagaimana
mungkin waktu muda foya-foya,
tanpa amalan sholeh, lalu mati bisa
masuk surga[?] Sungguh hal ini
dapat kita katakan sangatlah
mustahil. Untuk masuk surga pastilah ada sebab dan tidak
mungkin hanya dengan foya-foya
seperti itu. Semoga melalui risalah
ini dapat membuat para pemuda
sadar, sehingga mereka dapat
memanfaatkan waktu mudanya dengan sebaik-baiknya. Hanya
pada Allah-lah tempat kami
bersandar dan berserah diri. Wahai Pemuda, Hidup Di Dunia
Hanyalah Sementara
Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam pernah menasehati seorang
sahabat yang tatkala itu berusia
muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu
‘ anhuma. (Syarh Al Arba’ in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu
Syaikh, 294). Beliau shallallahu
‘ alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, ْنُك يِف اَيْنُّدلا َكَّنَأَك ٌبْيِرَغ , ْوَأ ُرِباَع ٍلْيِبَس
“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing
atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)
Lihatlah nasehat yang sangat
bagus sekali dari Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia. Ath Thibiy
mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan
orang asing (al ghorib) yang tidak
memiliki tempat berbaring dan
tempat tinggal. Kemudian beliau
shallallahu ‘ alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu
memisalkan dengan pengembara.
Orang asing dapat tinggal di negeri
asing. Hal ini berbeda dengan
seorang pengembara yang
bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat
lembah-lembah, akan ditemui
tempat yang membinasakan, dia
akan melewati padang pasir yang
menyengsarakan dan juga
terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya
sebentar sekali, sekejap
mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)
Negeri asing dan tempat
pengembaraan yang dimaksudkan
dalam hadits ini adalah dunia dan
negeri tujuannya adalah akhirat.
Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita
jangan berpanjang angan-angan.
Hadits ini juga mengingatkan kita
supaya mempersiapkan diri untuk
negeri akhirat dengan amal sholeh.
(Lihat Fathul Qowil Matin) Dalam hadits lainnya, Rasulullah
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, اَم ىِل اَمَو اَيْنُّدلِل اَم اَنَأ ىِف اَيْنُّدلا َّالِإ ٍبِكاَرَك َّلَظَتْسا َتْحَت ٍةَرَجَش َّمُث َحاَر
اَهَكَرَتَو
“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia
melainkan seperti musafir yang
berteduh di bawah pohon dan
beristirahat, lalu musafir tersebut
meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh
Al Albani dalam Shohih wa Dho’ if Sunan At Tirmidzi)
‘ Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘ anhu juga memberi petuah kepada kita, ِتَلَحَتْرا اَيْنُّدلا ًةَرِبْدُم ، ِتَلَحَتْراَو ُةَرِخآلا ًةَلِبْقُم ، ِّلُكِلَو ٍةَدِحاَو اَمُهْنِم َنوُنَب ، اوُنوُكَف ْنِم ِءاَنْبَأ ِةَرِخآلا ، َالَو اوُنوُكَت ْنِم ِءاَنْبَأ اَيْنُّدلا ، َّنِإَف َمْوَيْلا ٌلَمَع َالَو َباَسِح ، اًدَغَو ٌباَسِح َالَو َلَمَع
“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan
mendekat. Dunia dan akhirat
tesebut memiliki anak. Jadilah
anak-anak akhirat dan janganlah
kalian menjadi anak dunia. Hari ini
(di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab),
sedangkan besok (di akhirat)
adalah hari perhitungan (hisab)
dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’ allaq – tanpa sanad-) Manfaatkanlah Waktu Muda,
Sebelum Datang Waktu Tuamu
Lakukanlah lima hal sebelum
terwujud lima hal yang lain. Dari
Ibnu ‘ Abbas, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ْمِنَتْغِا اًسْمَخ َلْبَق ٍسْمَخ : َكَباَبَش َلْبَق َكِمَرَه َو َكَتَّحِص َلْبَق َكِمَقَس َو َكاَنِغ َلْبَق َكِرْقَف َو َكَغاَرَف َلْبَق َكِلْغَش َو َكَتاَيَح َلْبَق َكِتْوَم
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang
waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang
waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang
masa sibukmu,
[5] Hidupmu sebelum datang
kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz
Dzahabiy dalam At Talkhish
berdasarkan syarat Bukhari-
Muslim. Hadits ini dikatakan shohih
oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)
Waktu mudamu sebelum datang
waktu tuamu, maksudnya:
“Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal
(yaitu di waktu muda), sebelum
datang masa tua renta.” Waktu sehatmu sebelum datang waktu
sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang
waktu yang menghalangi untuk
beramal seperti di waktu sakit.” Masa luangmu sebelum datang
masa sibukmu, maksudnya:
“Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum
datang waktu sibukmu di akhirat
nanti. Dan awal kehidupan akhirat
adalah di alam kubur.” Masa kayamu sebelum datang masa
kefakiranmu, maksudnya:
”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana
yang dapat merusak harta
tersebut, sehingga akhirnya
engkau menjadi fakir di dunia
maupun akhirat.” Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya:
“Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu,
karena siapa pun yang mati, maka
akan terputus amalannya.” Al Munawi mengatakan, ِهِذِهَف ُةَسْمَخلا اَل ُفِرْعَي اَهَرْدَق َّالِإ َدْعَب اَهِلاَوَز
“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan
waktu ketika hidup) barulah
seseorang betul-betul mengetahui
nilainya setelah kelima hal tersebut
hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)
Benarlah kata Al Munawi.
Seseorang baru ingat kalau dia
diberi nikmat sehat, ketika dia
merasakan sakit. Dia baru ingat
diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki
waktu semangat untuk beramal di
masa muda, setelah dia nanti
berada di usia senja yang sulit
beramal. Penyesalan tidak ada
gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan
sia-sia. Orang yang Beramal Di Waktu
Muda Akan Bermanfaat Untuk
Waktu Tuanya
Dalam surat At Tiin, Allah telah
bersumpah dengan tiga tempat
diutusnya para Nabi ‘ Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang
terdapat buah tin dan zaitun – tempat diutusnya Nabi ‘ Isa ‘ alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat
Allah berbicara langsung dengan
Nabi Musa ‘ alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus
Nabi kita Muhammad shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Setelah bersumpah dengan tiga
tempat tersebut, Allah Ta’ ala pun berfirman, ْدَقَل اَنْقَلَخ َناَسْنِإْلا يِف ِنَسْحَأ ٍميِوْقَت ) 4 ( َّمُث ُهاَنْدَدَر َلَفْسَأ َنيِلِفاَس ) 5 ( اَّلِإ َنيِذَّلا اوُنَمَآ اوُلِمَعَو ِتاَحِلاَّصلا ْمُهَلَف ٌرْجَأ ُرْيَغ ٍنوُنْمَم
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya. Kemudian
Kami kembalikan dia ke tempat
yang serendah-rendahnya. Kecuali
orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-
putusnya.” (QS. At Tiin [95] : 4-6) Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara
pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan
sebaik-baiknya sebagaimana di
waktu muda yaitu masa kuat dan
semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘ Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-
rendahnya”. Menurut Ibnu ‘ Abbas, ‘ Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang
dimaksudkan dengan bagian ayat
ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia
muda, atau dikembalikan di masa-
masa tidak semangat untuk
beramal setelah sebelumnya
berada di masa semangat untuk
beramal”. Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal.
Seseorang akan melewati masa
kecil, masa muda, dan masa tua.
Masa kecil dan masa tua adalah
masa sulit untuk beramal, berbeda
dengan masa muda. An Nakho’ i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia
senja dan pada saat itu sangat
sulit untuk beramal, maka akan
dicatat untuknya pahala
sebagaimana amal yang dulu
dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman
Allah (yang artinya): bagi mereka
pahala yang tiada putus-
putusnya.” Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya),
“Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang- orang yang beriman di waktu
mudanya, di saat kondisi fit
(semangat) untuk beramal, maka
mereka di waktu tuanya nanti
tidaklah berkurang amalan
mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan
ketaatan di saat usia senja.
Karena Allah Ta’ ala Maha Mengetahui, seandainya mereka
masih diberi kekuatan beramal
sebagaimana waktu mudanya,
mereka tidak akan berhenti untuk
beramal kebaikan. Maka orang
yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia
akan diberi ganjaran sebagaimana
di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174) Baca selengkapnya di sini:
http://rumaysho.com/belajar-islam/
muslimah/2051-masa-muda-waktu-
utama-beramal-sholeh.html
adalah waktu untuk hidup foya-
foya, masa untuk bersenang-
senang. Sebagian mereka
mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan
mati masuk surga.” Inilah guyonan sebagian pemuda. Bagaimana
mungkin waktu muda foya-foya,
tanpa amalan sholeh, lalu mati bisa
masuk surga[?] Sungguh hal ini
dapat kita katakan sangatlah
mustahil. Untuk masuk surga pastilah ada sebab dan tidak
mungkin hanya dengan foya-foya
seperti itu. Semoga melalui risalah
ini dapat membuat para pemuda
sadar, sehingga mereka dapat
memanfaatkan waktu mudanya dengan sebaik-baiknya. Hanya
pada Allah-lah tempat kami
bersandar dan berserah diri. Wahai Pemuda, Hidup Di Dunia
Hanyalah Sementara
Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam pernah menasehati seorang
sahabat yang tatkala itu berusia
muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu
‘ anhuma. (Syarh Al Arba’ in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu
Syaikh, 294). Beliau shallallahu
‘ alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, ْنُك يِف اَيْنُّدلا َكَّنَأَك ٌبْيِرَغ , ْوَأ ُرِباَع ٍلْيِبَس
“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing
atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)
Lihatlah nasehat yang sangat
bagus sekali dari Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia. Ath Thibiy
mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan
orang asing (al ghorib) yang tidak
memiliki tempat berbaring dan
tempat tinggal. Kemudian beliau
shallallahu ‘ alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu
memisalkan dengan pengembara.
Orang asing dapat tinggal di negeri
asing. Hal ini berbeda dengan
seorang pengembara yang
bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat
lembah-lembah, akan ditemui
tempat yang membinasakan, dia
akan melewati padang pasir yang
menyengsarakan dan juga
terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya
sebentar sekali, sekejap
mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)
Negeri asing dan tempat
pengembaraan yang dimaksudkan
dalam hadits ini adalah dunia dan
negeri tujuannya adalah akhirat.
Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita
jangan berpanjang angan-angan.
Hadits ini juga mengingatkan kita
supaya mempersiapkan diri untuk
negeri akhirat dengan amal sholeh.
(Lihat Fathul Qowil Matin) Dalam hadits lainnya, Rasulullah
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, اَم ىِل اَمَو اَيْنُّدلِل اَم اَنَأ ىِف اَيْنُّدلا َّالِإ ٍبِكاَرَك َّلَظَتْسا َتْحَت ٍةَرَجَش َّمُث َحاَر
اَهَكَرَتَو
“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia
melainkan seperti musafir yang
berteduh di bawah pohon dan
beristirahat, lalu musafir tersebut
meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh
Al Albani dalam Shohih wa Dho’ if Sunan At Tirmidzi)
‘ Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘ anhu juga memberi petuah kepada kita, ِتَلَحَتْرا اَيْنُّدلا ًةَرِبْدُم ، ِتَلَحَتْراَو ُةَرِخآلا ًةَلِبْقُم ، ِّلُكِلَو ٍةَدِحاَو اَمُهْنِم َنوُنَب ، اوُنوُكَف ْنِم ِءاَنْبَأ ِةَرِخآلا ، َالَو اوُنوُكَت ْنِم ِءاَنْبَأ اَيْنُّدلا ، َّنِإَف َمْوَيْلا ٌلَمَع َالَو َباَسِح ، اًدَغَو ٌباَسِح َالَو َلَمَع
“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan
mendekat. Dunia dan akhirat
tesebut memiliki anak. Jadilah
anak-anak akhirat dan janganlah
kalian menjadi anak dunia. Hari ini
(di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab),
sedangkan besok (di akhirat)
adalah hari perhitungan (hisab)
dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’ allaq – tanpa sanad-) Manfaatkanlah Waktu Muda,
Sebelum Datang Waktu Tuamu
Lakukanlah lima hal sebelum
terwujud lima hal yang lain. Dari
Ibnu ‘ Abbas, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ْمِنَتْغِا اًسْمَخ َلْبَق ٍسْمَخ : َكَباَبَش َلْبَق َكِمَرَه َو َكَتَّحِص َلْبَق َكِمَقَس َو َكاَنِغ َلْبَق َكِرْقَف َو َكَغاَرَف َلْبَق َكِلْغَش َو َكَتاَيَح َلْبَق َكِتْوَم
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :
[1] Waktu mudamu sebelum datang
waktu tuamu,
[2] Waktu sehatmu sebelum datang
waktu sakitmu,
[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
[4] Masa luangmu sebelum datang
masa sibukmu,
[5] Hidupmu sebelum datang
kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz
Dzahabiy dalam At Talkhish
berdasarkan syarat Bukhari-
Muslim. Hadits ini dikatakan shohih
oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)
Waktu mudamu sebelum datang
waktu tuamu, maksudnya:
“Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal
(yaitu di waktu muda), sebelum
datang masa tua renta.” Waktu sehatmu sebelum datang waktu
sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang
waktu yang menghalangi untuk
beramal seperti di waktu sakit.” Masa luangmu sebelum datang
masa sibukmu, maksudnya:
“Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum
datang waktu sibukmu di akhirat
nanti. Dan awal kehidupan akhirat
adalah di alam kubur.” Masa kayamu sebelum datang masa
kefakiranmu, maksudnya:
”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana
yang dapat merusak harta
tersebut, sehingga akhirnya
engkau menjadi fakir di dunia
maupun akhirat.” Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya:
“Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu,
karena siapa pun yang mati, maka
akan terputus amalannya.” Al Munawi mengatakan, ِهِذِهَف ُةَسْمَخلا اَل ُفِرْعَي اَهَرْدَق َّالِإ َدْعَب اَهِلاَوَز
“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan
waktu ketika hidup) barulah
seseorang betul-betul mengetahui
nilainya setelah kelima hal tersebut
hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)
Benarlah kata Al Munawi.
Seseorang baru ingat kalau dia
diberi nikmat sehat, ketika dia
merasakan sakit. Dia baru ingat
diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki
waktu semangat untuk beramal di
masa muda, setelah dia nanti
berada di usia senja yang sulit
beramal. Penyesalan tidak ada
gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan
sia-sia. Orang yang Beramal Di Waktu
Muda Akan Bermanfaat Untuk
Waktu Tuanya
Dalam surat At Tiin, Allah telah
bersumpah dengan tiga tempat
diutusnya para Nabi ‘ Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang
terdapat buah tin dan zaitun – tempat diutusnya Nabi ‘ Isa ‘ alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat
Allah berbicara langsung dengan
Nabi Musa ‘ alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus
Nabi kita Muhammad shallallahu
‘ alaihi wa sallam. Setelah bersumpah dengan tiga
tempat tersebut, Allah Ta’ ala pun berfirman, ْدَقَل اَنْقَلَخ َناَسْنِإْلا يِف ِنَسْحَأ ٍميِوْقَت ) 4 ( َّمُث ُهاَنْدَدَر َلَفْسَأ َنيِلِفاَس ) 5 ( اَّلِإ َنيِذَّلا اوُنَمَآ اوُلِمَعَو ِتاَحِلاَّصلا ْمُهَلَف ٌرْجَأ ُرْيَغ ٍنوُنْمَم
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya. Kemudian
Kami kembalikan dia ke tempat
yang serendah-rendahnya. Kecuali
orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-
putusnya.” (QS. At Tiin [95] : 4-6) Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara
pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan
sebaik-baiknya sebagaimana di
waktu muda yaitu masa kuat dan
semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘ Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-
rendahnya”. Menurut Ibnu ‘ Abbas, ‘ Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang
dimaksudkan dengan bagian ayat
ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia
muda, atau dikembalikan di masa-
masa tidak semangat untuk
beramal setelah sebelumnya
berada di masa semangat untuk
beramal”. Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal.
Seseorang akan melewati masa
kecil, masa muda, dan masa tua.
Masa kecil dan masa tua adalah
masa sulit untuk beramal, berbeda
dengan masa muda. An Nakho’ i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia
senja dan pada saat itu sangat
sulit untuk beramal, maka akan
dicatat untuknya pahala
sebagaimana amal yang dulu
dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman
Allah (yang artinya): bagi mereka
pahala yang tiada putus-
putusnya.” Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya),
“Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang- orang yang beriman di waktu
mudanya, di saat kondisi fit
(semangat) untuk beramal, maka
mereka di waktu tuanya nanti
tidaklah berkurang amalan
mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan
ketaatan di saat usia senja.
Karena Allah Ta’ ala Maha Mengetahui, seandainya mereka
masih diberi kekuatan beramal
sebagaimana waktu mudanya,
mereka tidak akan berhenti untuk
beramal kebaikan. Maka orang
yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia
akan diberi ganjaran sebagaimana
di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174) Baca selengkapnya di sini:
http://rumaysho.com/belajar-islam/
muslimah/2051-masa-muda-waktu-
utama-beramal-sholeh.html
Akibat Seorang Muslim Memelihara Anjing Oleh Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat
Saat ini, begitu seringnya kita
melihat orang yang memelihara
anjing. Bahkan bukan hanya non
muslim saja, sebagian kaum
muslimin pun memelihara hewan
yang jelas-jelas haram dan najis. Pada posting kali ini, kita akan
melihat beberapa hadits yang
berkenaan dengan memelihara
anjing. Setelah membaca tulisan ini,
silakan pembaca lihat,
bagaimanakah hukum memelihara anjing untuk sekedar menjaga
rumah? Apakah diperbolehkan? Hadits Pertama
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, نم كسمأ ابلك هنإف صقني لك موي نم هلمع طاريق الإ بلك ثرح وأ ةيشام “Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan
berkurang setiap harinya sebesar
satu qiroth (satu qiroth adalah
sebesar gunung uhud), selain
anjing untuk menjaga tanaman
atau hewan ternak.” Ibnu Sirin dan Abu Sholeh
mengatakan dari Abu Hurairah
bahwa Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam mengatakan, الإ بلك منغ وأ ثرح وأ ديص “Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman
atau untuk berburu.” Abu Hazim mengatakan dari Abu
Hurairah bahwa Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda, بلك ديص وأ ةيشام
”Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan
ternak.” (HR. Bukhari) [Bukhari: 46-Kitab Al Muzaro’ ah, 3- Bab Memelihara Anjing untuk
Menjaga Tanaman] Hadits Kedua
Dari Ibnu ‘ Umar, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ِنَم ىَنَتْقا اًبْلَك َّالِإ َبْلَك ٍةَيِشاَم ْوَأ ىِراَض َصَقَن ْنِم ِهِلَمَع َّلُك ٍمْوَي ِناَطاَريِق “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga
binatang ternak, maka amalannya
berkurang setiap harinya
sebanyak dua qiroth (satu qiroth
adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).
An Nawawi membawakan hadits di
atas dalam Bab “Perintah membunuh anjing dan penjelasan
naskhnya, juga penjelasan
haramnya memelihara anjing selain
untuk berburu, untuk menjaga
tanaman, hewan ternak dan
semacamnya .” Hadits Ketiga
Dari Salim bin ‘ Abdullah dari ayahnya –‘ Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ِنَم ىَنَتْقا اًبْلَك َّالِإ َبْلَك ٍةَيِشاَم ْوَأ َبْلَك ٍدْيَص َصَقَن ْنِم ِهِلَمَع َّلُك ٍمْوَي ٌطاَريِق “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga
binatang ternak dan anjing untuk
berburu, maka amalannya
berkurang setiap harinya
sebanyak satu qiroth (satu qiroth
adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).
‘ Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, “Atau anjing untuk menjaga tanaman.” An Nawawi membawakan hadits ini
dalam bab yang sama dengan
hadits sebelumnya. Hadits Keempat
Dari Salim bin ‘ Abdullah dari ayahnya –‘ Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, اَمُّيَأ ِلْهَأ ٍراَد اوُذَخَّتا اًبْلَك َّالِإ َبْلَك ٍةَيِشاَم ْوَأ َبْلَك ٍدِئاَص َصَقَن ْنِم ْمِهِلَمَع َّلُك ٍمْوَي ِناَطاَريِق
“Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing
untuk menjaga binatang ternak
atau anjing untuk berburu, maka
amalannya berkurang setiap
harinya sebanyak dua qiroth (satu
qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh). An Nawawi membawakan
hadits ini dalam bab yang sama
dengan hadits pertama.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al
Utsaimin mengatakan, “Adapun memelihara anjing dihukumi haram
bahkan perbuatan semacam ini
termasuk dosa besar -Wal ‘ iyadzu billah-. Karena seseorang yang
memelihara anjing selain anjing
yang dikecualikan (sebagaimana
disebutkan dalam hadits-hadits di
atas, pen), maka akan
berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak 2 qiroth
(satu qiroth = sebesar gunung
Uhud).” (Syarh Riyadhus Shalihin, pada Bab “Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk
Berburu, Menjaga Hewan Ternak
atau Menjaga Tanaman”) Kesimpulan:
Hukum memelihara anjing adalah
haram dan termasuk dosa besar
kecuali anjing yang digunakan
untuk berburu, untuk menjaga
tanaman dan hewan ternak. Semoga Allah menjauhkan kita dari
setiap perkara yang Dia larang.
Hanya Allah yang beri taufik. Baca selengkapnya di sini:
http://rumaysho.com/hukum-islam/
umum/2029-akibat-seorang-
muslim-memelihara-anjing.html
melihat orang yang memelihara
anjing. Bahkan bukan hanya non
muslim saja, sebagian kaum
muslimin pun memelihara hewan
yang jelas-jelas haram dan najis. Pada posting kali ini, kita akan
melihat beberapa hadits yang
berkenaan dengan memelihara
anjing. Setelah membaca tulisan ini,
silakan pembaca lihat,
bagaimanakah hukum memelihara anjing untuk sekedar menjaga
rumah? Apakah diperbolehkan? Hadits Pertama
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, نم كسمأ ابلك هنإف صقني لك موي نم هلمع طاريق الإ بلك ثرح وأ ةيشام “Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan sholehnya akan
berkurang setiap harinya sebesar
satu qiroth (satu qiroth adalah
sebesar gunung uhud), selain
anjing untuk menjaga tanaman
atau hewan ternak.” Ibnu Sirin dan Abu Sholeh
mengatakan dari Abu Hurairah
bahwa Nabi shallallahu ‘ alaihi wa sallam mengatakan, الإ بلك منغ وأ ثرح وأ ديص “Selain anjing untuk menjaga hewan ternak, menjaga tanaman
atau untuk berburu.” Abu Hazim mengatakan dari Abu
Hurairah bahwa Nabi shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda, بلك ديص وأ ةيشام
”Selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga hewan
ternak.” (HR. Bukhari) [Bukhari: 46-Kitab Al Muzaro’ ah, 3- Bab Memelihara Anjing untuk
Menjaga Tanaman] Hadits Kedua
Dari Ibnu ‘ Umar, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ِنَم ىَنَتْقا اًبْلَك َّالِإ َبْلَك ٍةَيِشاَم ْوَأ ىِراَض َصَقَن ْنِم ِهِلَمَع َّلُك ٍمْوَي ِناَطاَريِق “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga
binatang ternak, maka amalannya
berkurang setiap harinya
sebanyak dua qiroth (satu qiroth
adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).
An Nawawi membawakan hadits di
atas dalam Bab “Perintah membunuh anjing dan penjelasan
naskhnya, juga penjelasan
haramnya memelihara anjing selain
untuk berburu, untuk menjaga
tanaman, hewan ternak dan
semacamnya .” Hadits Ketiga
Dari Salim bin ‘ Abdullah dari ayahnya –‘ Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, ِنَم ىَنَتْقا اًبْلَك َّالِإ َبْلَك ٍةَيِشاَم ْوَأ َبْلَك ٍدْيَص َصَقَن ْنِم ِهِلَمَع َّلُك ٍمْوَي ٌطاَريِق “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga
binatang ternak dan anjing untuk
berburu, maka amalannya
berkurang setiap harinya
sebanyak satu qiroth (satu qiroth
adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh).
‘ Abdullah mengatakan bahwa Abu Hurairah juga mengatakan, “Atau anjing untuk menjaga tanaman.” An Nawawi membawakan hadits ini
dalam bab yang sama dengan
hadits sebelumnya. Hadits Keempat
Dari Salim bin ‘ Abdullah dari ayahnya –‘ Abdullah-, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, اَمُّيَأ ِلْهَأ ٍراَد اوُذَخَّتا اًبْلَك َّالِإ َبْلَك ٍةَيِشاَم ْوَأ َبْلَك ٍدِئاَص َصَقَن ْنِم ْمِهِلَمَع َّلُك ٍمْوَي ِناَطاَريِق
“Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing
untuk menjaga binatang ternak
atau anjing untuk berburu, maka
amalannya berkurang setiap
harinya sebanyak dua qiroth (satu
qiroth adalah sebesar gunung uhud).” (HR. Muslim: 23 Kitab Al Masaqoh). An Nawawi membawakan
hadits ini dalam bab yang sama
dengan hadits pertama.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al
Utsaimin mengatakan, “Adapun memelihara anjing dihukumi haram
bahkan perbuatan semacam ini
termasuk dosa besar -Wal ‘ iyadzu billah-. Karena seseorang yang
memelihara anjing selain anjing
yang dikecualikan (sebagaimana
disebutkan dalam hadits-hadits di
atas, pen), maka akan
berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak 2 qiroth
(satu qiroth = sebesar gunung
Uhud).” (Syarh Riyadhus Shalihin, pada Bab “Haramnya Memelihara Anjing Selain Untuk
Berburu, Menjaga Hewan Ternak
atau Menjaga Tanaman”) Kesimpulan:
Hukum memelihara anjing adalah
haram dan termasuk dosa besar
kecuali anjing yang digunakan
untuk berburu, untuk menjaga
tanaman dan hewan ternak. Semoga Allah menjauhkan kita dari
setiap perkara yang Dia larang.
Hanya Allah yang beri taufik. Baca selengkapnya di sini:
http://rumaysho.com/hukum-islam/
umum/2029-akibat-seorang-
muslim-memelihara-anjing.html
Langganan:
Postingan (Atom)
